Senin, 27 Agustus 2012

"Antu Banyu" Misteri Hantu Air Yang Ada Di Sumatera Selatan

"Antu Banyu" Misteri Hantu Air Yang Ada Di Sumatera Selatan - Mitos satu ini sangatlah populer di kalangan masyarakat Sumatera Selatan, yaitu sebuah cerita mengenai Hantu yang berada di dalam sungai dan dikenal dengan "Antu Banyu". Cerita Antu Banyu ini begitu terkenal di tengah masyarakat pendukungnya, karena sejak lama cerita ini begitu melekat dan diwarisi oleh pewaris aktifnya secara turun-temurun intergenerasi bahkan antargenerasi.

Jika ada seorang anak kecil yang sering atau suka bermain di sungai dalam waktu yang lama, maka biasanya akan ditegur oleh orang tua, kerabat, dan orang-orang sekitarnya dengan mengatakan, “Jangan galak main di sungi Musi (nama sungai di Sumatera Selatan), gek ado antu banyu!” (bahasa Melayu Palembang dan Musi), Dang galak mido di way Selabung (nama sungai di Muara Dua) tulik dikanik hantu lawok!” (bahasa Daya) atau “Jangan galak mandi di ayik Lintang (nama sungai di daerah Empat Lawang), kelo dipaju antu ayik!“ (bahasa Lintang).

Nama hantu yang katanya kerap hidup di dalam air ini, dikenal dengan nama yang beragam di daerah Sumatera Selatan. Masyarakat Komering mengenalnya dengan nama Antu Anyar, masyarakat Lintang mengenalnya dengan nama Antu Ayek atau dengan nama lain Selingkup, dan masyarakat Muara Dua mengenal jenis hantu ini dengan sebutan Hantu Lawok, dan masyarakat Melayu Palembang atau Musi mengenalnya dengan nama Antu Banyu. Apa pun namanya, jenis hantu ini habitatnya hidup di air dengan karakter tersendiri di tengah masyarakat pendukungnya.

Tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa hantu jenis ini memiliki versi dan variannya masing-masing. Mengingat, masyarakat Sumatera Selatan secara geografis memiliki banyak sungai yang memungkinkan cerita ini berkembang dengan pesat melampaui batas ruang dan waktu. Maka wajar saja, seolah-olah di tengah masyarakat Sumatera Selatan kemasyuran hantu yang hidup di air ini begitu melekat dan “membumi”.

Kehadiran cerita Antu Banyu ini menimbulkan nuansa tersendiri bagi masyarakat disana, terutama masyarakat yang hidupnya di sungai-sungai atau di daerah laut yang ada di Sumatera Selatan. Boleh percaya atau tidak, hampir semua daerah di Sumatera Selatan pasti mengenal mitos mengenai hantu yang hidup di air ini.

Menurut Bascom dalam Danandjaja (2002:50), mitos atau mite merupakan cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi, serta dianggap suci oleh empunya cerita. Biasanya mitos ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa solah-olah terjadi di dunia lain atau di dunia yang bukan seperti yang kita kenal sekarang ini, dan terjadi pada masa lampau.

Folk atau kolektif masyarakat menentukan, bahwa cerita hantu yang hidup di air ini termasuk dalam kategori mitos, sebab folk pemilik atau pendukung cerita ini begitu melekat dan “membumi” di tengah masyarakat yang “hidupnya” dilingkupi oleh sungai atau laut. Selain itu, menurut Bascom, bahwa karakteristik mite atau mitos dapat diketahui dari bentuk topografi, bentuk khas, serta berikut petualangannya.

Antu Banyu memiliki karakteristik berambut panjang dan keras, rambutnya seperti satang (buluh yang panjang), karena itu apabila rambut ini sudah berada diatas kapal, perahu, sampan atau ketek, biasanya perahu atau kapal atau ketek tersebut akan karam.

Selain rambut tersebut berat dan juga tajam, karena itulah kalau antu banyu telah meletakkan rambutnya yang panjang tersebut ke atas kapal atau sampan maupun ketek, biasanya penghuninya akan menjadi “santapannya”. Hal ini dapat pula terjadi dengan orang yang sedang berada di pinggir sungai, antu banyu dapat mengambil orang tersebut secara tiba-tiba.

Kemudian mangsanya itu akan ditemukan oleh penduduk setempat dalam keadaan terapung dengan ubun-ubun atau punggung sum-sum tulang belakang dalam keadaan bolong. Konon, antu banyu sangat menggemari wilayah ubun-ubun kepala dan bagian sum-sum tulang belakang manusia.

Antu banyu biasanya menghuni gua-gua yang ada di sepanjang sungai dan lorong-lorong atau pusaran, serta celah-celah yang ada di dalam sungai. Pada waktu-waktu tertentu ia akan muncul untuk memangsa korbannya.


Caranya memangsa korban pun dengan cara menaikkan rambutnya ke perahu atau ketek, saat penghuni ketek kewalahan perahu atau keteknya akan karam, saat itu juga sang antu banyu akan memangsa korbannya.

Karena memiliki rambut yang panjang, disinyalir hantu banyu ini berjenis kelamin perempuan. Biasanya antu banyu sangat selektif dalam memangsa korbannya, antara lain pendatang baru di daerah tersebut, anak-anak, atau juga remaja berusia akil baliq.

Mitos mengenai antu banyu ini berdasarkan tempat asalnya yang hidup di air atau sungai Sumatera Selatan, sepertinya merupakan mitos asli Sumatera Selatan, Indonesia, dan bukan berasal dari luar negeri, terutama seperti dari India, Arab, dan sekitar Laut Tengah yang umumnya telah mengalami pengolahan cerita lebih lanjut.

Hal ini disebabkan mereka telah mengalami yang oleh Robert Redfí et. Al. disebut sebagai proses adaptasi (adaptation). Walaupun tidak dipungkiri, bahwa di negara lain juga punya kepercayaan atau mitos mengenai hantu yang hidup di air ini, seperti Inggris, Jepang, Thailand, dan China.

Namun, cerita antu banyu yang hidup di Sumatera Selatan, Indonesia punya versi dan karakteristik yang berbeda. Cerita antu banyu yang terkenal di Sumatera Selatan tidak terlepas dari struktur dan historis Sumatera Selatan yang memiliki banyak wilayah perairan.

Tidak berlebihan jika dikenal dengan sebutan “Negeri Batanghari Sembilan” (Negeri Sembilan Sungai), yaitu Sungai Komering, Rawas, Batanghari, Leko, Lakitan, Kelingi, Lematang, Semangus, dan Ogan.

Untuk mengetahui keterkaitan suatu mitos dari satu negara, maka perlu dilakukan studi komparatif dengan cara membandingkan versi atau varian cerita tersebut. Namun, hal itu sangatlah sulit, karena akan memakan waktu yang cukup lama.

Menurut Danandjaja, pada dasarnya jika ada kesamaan antara cerita dengan cerita yang lain, biasanya ada dua kemungkinan yang melatarbelakanginya, yaitu (1) monogenesis: suatu penemuan yang diikuti proses difusi (diffusion) atau penyebaran, (2) sebagai akibat poligenesis, yang disebabkan oleh penemuan-penemuan yang sendiri (independent invention) atau sejajar (parallel invention) dari motif-motif cerita yang sama, di tempat-tempat yang berlainan, serta dalam masa yang berlainan atau bersamaan.

Teori-teori yang tergolong monogenesis, antara lain teori Grimm bersaudara, teori mitologi matahari Max Muller, dan teori Indianist Theodore Benfley. Ahli-ahli dongeng Jerman, seperti Yacob dan Wilhelm Grimm yang hidup dalam abab ke-19 M, walaupun mengakui adanya kemungkinan itu, namun lebih menekankan pada difusi (monogenesis) sebagai penyebab adanya kesejajaran itu. Pendapat kedua bersaudara itu dianut kebanyakan ahli foklor di dunia.

Cerita mengenai antu banyu ini demikian menarik untuk dibahas maupun diperbincangkan. Cerita mengenai hantu yang hidupnya di air ini bukan hanya dianggap sekedar meneguhkan kebenaran takhyul atau kepercayaan masyarakat kolektifnya.

Niscaya, cerita mengenai hantu ini berguna bagi kolektifnya, setidak-tidaknya dapat mengajarkan kepada kita agar disiplin dalam menggunakan waktu dan mengharmoniskan kita dalam mengasihi anak-anak.


Bagaimana bisa? Biasanya, orang yang berlama-lama di air tanpa ada pekerjaan, maka tidak akan efisien dalam menggunakan waktunya dan para orang tua dalam hal ini harus memperhatikan anak-anaknya, agar tidak berlama-lama berada di sungai.

Jika tidak, maka akibat terburuk itu akan terjadi, hantu yang kerap kali berada di air seperti antu banyu ini akan siap memangsa kapan saja.
 
 

Artikel Terkait



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar